Rabu, 26 April 2017

I RESIGN

0

Cuma bertahan kurang dr 1,5 bulan pasca cuti melahirkan. Yah, semua memang pilihan.

Yang sejalan sama aku pasti tau jg gimana ujian ngadepin omongan orang lain. Dari yg suam suam kuku sampe yg panaass kayak air mendidih 😂

buang buang duit aja kuliah klo akhirnya jd IRT! *padahal mah bayarin kuliah jg engga tuh orang. hihii.. *

cari kerjaan tuh susah. malah mau keluar!

bener mau resign? emang gak mau punya rumah? nanti susu dan sekolah faidhan gmn?

sekarang tuh apa apa mahal. kerja berdua aja masih kurang apalagi sendiri!

daaann.. you know lah.. bisa kali dilanjutin sendiri..

tapi, da aku mah apa atuh. cuma wanita yg mutusin nikah muda krn gak mau buang buang waktu, tenaga, hati, pikiran, dll buat pacaran, galau, atau apalah apalah.. trus punya anak diusia beliaa. yagitu belia? wkwkw.. jadi kitamah yah diem ajah. Mangga yg mau ngomong apa ajah. Terserah.. Kayaknya udh lumayan kebal 😂

Yah, sarjana yg mutusin jd pengangguran ini gak punya ilmu, blm ada pengalaman kayak emak emak terdahulu, blm ngerasain gmn punya anak dua atau tiga dan sdh sekolah. Jadi, aku memilih diam dan berdoa semoga Allah ridha dg keputusan ini. Bukankah itu yg diburu semua manusia?

#latepost #workingmomgakjadi #fulltimemomajah #dirumahajah #jadiemakemak #emakbaru #emaknewbie #IRT #proundtobeirt #irtmuda #irtberdaya

Senin, 17 April 2017

Ibu perlu ilmu

0

Ibu. Sejak dulu kata itu sakral buatku. Sejak aku kecil. Pun sampai saat ini. Saat sudah menjadi Ibu.

Ibu buatku adalah malaikat didunia. Bahakan Nabi pun mendahului Ibu sampai 3 kali ketika ditanya oleh seseorang.

Untuknya, ibu bukanlah orang sembarang. Karena banyaknya hal yang dipikul dipundaknya, ia butuh ilmu.

Sebagai ibu baru, Allah tunjukan jalan untuk mengetahui ibu ibu terdahulu yang banyak ilmu, banyak pengalaman dan banyak cerita.

Salah satunya adalah mengenal Ibu Profesional kepunyaan Ibu Septi Peni Wulandani. Ya, tak perlu lah panjang lebar menjelaskan sosoknya. Karena sudah banyak tulisan tentangnya.

Semoga ikhtiar ini berbuah ilmu nan berkah. Barakallah fiik

Selasa, 05 April 2016

Seeblum Kita Terbenam

0


Sebelum kita terbenam dalam tanah, kita menjalani banyak garis dalam hidup. Senang, sedih, bahagia, kecewa, cinta, jatuh, riang, sepi, dan lainnya. Semuanya menjadi lembar-lembar buku yang akan kita pertanggungjawabkan setelah tiadanya kita.

Langkah kaki kita belum terhenti sekarang. Masih ada jalan yang harus kita pilih. Masih ada jalan yang harus kita lalui. Semua perjalan itu akan menajadi memori yang akan bisa dikenang. Tentunya, tergantung jalan apa yang kita pilih. Jika kita memilih untuk menekuri jalan yang salah, maka penyesalan yang akan terkenang. Tapi tak apa. Semua orang bisa bersalah. Lebih baik jika setelah penyesalan itu kita dapati banyak arus pembelajaran. Bukankah pembelajaran dari pengalaman kita sendirilah guru yang paling baik?


Hidup ini banyak biliknya. Ia memintamu menjadi sebaik-baik peran. Maka cukuplah saja menjadi sebaik-baiknya kita dalam keluarga, rekan kerja juga persahabatan.

Senin, 01 Februari 2016

Doa mu

0

Senja itu, sambil melihatmu,

"Dulu sehabis solat, aku sering berdoa, supaya kita gak berjodoh
Semoga kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik
Dan aku juga bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik"

Kamu berujar "berarti doaku yang lebih dikabulkan"

Aku diam. Menyesal pernah meminta seperti itu.

Aku pernah membaca sebuat quote, mungkin kita tidak akan bersama orang yang kita sebut namanya dalam doa.
Tapi bersama yang nama kita disebut dalam doanya.

Terimakasih Allah, telah memberikan laki-laki soleh untuk ku

Aku mencintaimu.

Rabu, 30 Desember 2015

Beremosi

0

Silakan merasa. Apapun. Benci, suka, riang, sedih, kecewa, sakit hati, senang, bahagia, lega. Silakan. Itu semua fitrah. Itu semua emosi yang manusia punya. Kamu juga berhak bercerita. Pada ibumu, ayahmu, belahan jiwamu, atau sahabatmu. Itu menandakan, ia begitu berarti. Sampai kamu bisa mempersilakan mereka untuk singgah dan merasa apa yang kamu rasa.

Seperti malam ini, aku mengundang belahan jiwaku untuk sesaat bersama, duduk dalam hati ini. Hanya bercertia.

Hah, cangkir teh punyaku saja sampai tumpah karena ceritaku yang sungguh emosional. Maklum saja, aku sungguh jarang mengundang orang lain. Bahkan mengintip saja, tidak aku izinkan. Hanya aku.

Akhir ini aku merasa sesak. Seperti beton-beton pembangun jalan yang masuk ke dalam hati. Teringat tentang materi kuliah dulu. Materi Psikologi. Dan aku menyesal kurang begitu giat saat itu.

Bahwa setiap orang punya karakternya masing-masing. Keperibadiannya masing-masing. Ada yang peduli, ada yang cuek, ada yang pemalu, ada yang bersemangat, dan lainnya. Dan kita pasti punya salah satunya.

Tidak semua orang lain harus sesuai dengan apa yang kita mau. Untuk peduli, untuk memahami, saling membantu dan lainnya. Ada kebutuhan dan kepentingan yang berbeda bagi setiap orang. Untuk itu, ada yang disebut dengan kecerdasan interpersonal. Bagaimana kita memahami orang lain, berinteraksi dengan orang lain, bergaul dengan orang lain, dan lainnya. Ya, untuk ini, aku masih terus belajar. Menjadi pribadi yang sportif dan profesional serta jernih untuk siapapun.

Maka, jika kamu menemukan ada hal yang kurang berkenan dalam hatimu tentang kondisi atau seseorang, itu karena seiap orang berbeda. Ia punya cara sendiri untuk nafasnya. Yang kamu harus lakukan adalah, berusaha melakukan apapun yang terbaik sesuai dengan peranmu. Lakukan apapun yang Allah suka, bukan yang makhluk suka. Berbuatlah yang baik, karena kebaikan itu untukmu sendiri. Biarlah penilaian itu dibuat oleh-Nya. Karena Dia lebih objektif. Belajar, dan lakukan yang kami bisa lakukan.

Malam itu, ia duduk sambil menepuk nepuk tubuhku yang gemetar karena cerita. Ya, aku bisa bercerita sekarang. Semoga beton-beton itu segera keluar dalam hati, dan melanjutkan proyek pembangunan jalan rayanya.

Oh ya, satu lagi, kamu tau apa yang harus disyukuri dari orang yang sedih, kecewa atau bahkan marah? Iya. karena ia masih beremosi. Berarti masih ada kehidupan dalam jasadnya. Bukankah kehidupan itu lebih pantas disyukuri?

Selasa, 24 November 2015

0

Aku habiskan hujan matahariku sore itu. Menunggu panggilan untuk diperiksa.

Aku harus putuskan untuk memeriksakan kandunganku hari itu juga. Aku khawatir karena menemukan hal aneh dzuhur kemarin dan berulang pagi harinya.

Jantungku serasa habis naik ke lantai 11 dengan anak tangga.

Semoga Engkau sehatkan isi dalam rahim ini.

"Kalau sudah pulang, langsung ke rumah sakit ya sayang. Aku periksa disini"

Pesan whatsapp ku untuk mu.


Jumat, 13 Februari 2015

Bekerja, Kuliah, Menikah dan Calon Ibu :)

0

Alhamdulillah, segala puji bagi Rabb semesta alam. Bekerja, Kuliah, menikah dan calon ibu. Ya mungkin begitu rumit terdengar. Aku bekerja di sebuah lembaga kemanusiaan nasional, PKPU. Berada disini adalah sebuah karunia besar buatku. Bukan tentang besar dan kecil yang masuk dalam kantong, tapi juga yang masuk dalam hati. Tentang semangat menjaga dan memperbaiki diri. Teruntuk semua sahabat di PKPU, aku mencintaimu karna Allah.

Aku melanjutkan jejang pendidikan formalku, semester 7 di Universitas Indraprasta PGRI. Bimbingan dan Konseling, jurusanku. Di sini, aku banyak belajar tentang pendidikan, kepribadian, empati, dan lainnya. Dan kembali, menjadi bagian dari ikhtiarku memperbaiki diri.

7 September 2014 adalah hari bertambahnya amanahku. Tanggung jawabku. Hari disatukan dengan seorang yang berhati baik dan berakhlak lembut. Lewat taaruf sederhana dan singkat. Dengan niat yang terus diluruskan, aku menerimanya menjadi bagian hidupku sampai saat ini, dan selamanya.
Aku mencintaimu. 

Dengan ke Maha baikakan Allah, begitu ringan terasa. Pekerjaanku, kuliahku, dan mendampingimu. Bahkan, sepertinya, akan ada lagi yang akan menambah riang hari-hari kita. Ini adalah proses, sepanjang hayat. Bahkan niat yang ditancapkan awal, harus terus diluruskan. Ya, melakukan semuanya untuk Rabb, yang memberi kebaikan pada kita. Semata untuk Nya.